September 18, 2013

Krisis Mata Uang Rupiah 2013: Penyebab dan Dampaknya

Sejak Juni 2013, nilai tukar Rupiah cenderung melemah. Hal yang sama juga dialami oleh mata uang beberapa negara emerging markets (negara berkembang yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi dengan cepat) lainnya. Selama Juni-Agustus 2013, nilai tukar Lira Turki jatuh sebesar 10 persen; nilai tukar Rupee India jatuh sebesar 20 persen; dan nilai tukar Rupiah serta Real Brazil jatuh sekitar 15 persen.[1] Trend melemahnya nilai tukar mata uang beberapa negara emerging markets selama Juni-Agustus 2013 bisa dilihat dalam grafik di bawah ini:

Grafik 1
Nilai Tukar Mata Uang Emerging Markets vs. Dollar AS
Januari-Agustus 2013

Indeks, 15 Mei 2013 = 100

Sumber: Wells Fargo Securities Economics Group, LLC, Weekly Economic & Financial Commentary, 30 Agustus 2013, hlm. 4, https://www.wellsfargo.com/downloads/pdf/com/insights/economics/weekly-commentary/WeeklyEconomicFinancialCommentary_08302013.pdf.

Kenapa Nilai Tukar Rupiah Melemah?

Nilai tukar sebuah mata uang ditentukan oleh relasi penawaran-permintaan (supply-demand) atas mata uang tersebut. Jika permintaan atas sebuah mata uang meningkat, sementara penawarannya tetap atau menurun, maka nilai tukar mata uang itu akan naik. Kalau penawaran sebuah mata uang meningkat, sementara permintaannya tetap atau menurun, maka nilai tukar mata uang itu akan melemah. Dengan demikian, Rupiah melemah karena penawaran atasnya tinggi, sementara permintaan atasnya rendah.

Namun, apa yang menyebabkan penawaran atas Rupiah tinggi, sementara permintaan atasnya rendah? Setidaknya ada dua faktor. Pertama, keluarnya sejumlah besar investasi portofolio asing dari Indonesia. Keluarnya investasi portofolio asing ini menurunkan nilai tukar Rupiah, karena dalam proses ini, investor menukar Rupiah dengan mata uang negara lain untuk diinvestasikan di negara lain. Artinya, terjadi peningkatan penawaran atas Rupiah. Adapun indikasi dari keluarnya investasi portofolio asing ini bisa dilihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung menurun seiring dengan kecenderungan menurun dari Rupiah. Dalam grafik di bawah, kita bisa lihat bahwa IHSG mengalami kecenderungan menurun sejak Juni 2013:

Grafik 2
IHSG April-Agustus 2013


Kenapa investasi portofolio asing ini keluar dari Indonesia? Alasan yang sering disebut adalah karena rencana the Fed (bank sentral AS) untuk mengurangi Quantitative Easing (QE). Rencana ini dinyatakan oleh Ketua the Fed, Ben Bernanke, di depan Kongres AS pada 22 Mei 2013. Tidak lama setelah itu, mata uang di beberapa negara emerging markets pun anjlok (lihat Grafik 1). Yang dimaksud dengan QE di sini adalah program the Fed untuk mencetak uang dan membeli obligasi atau aset-aset finansial lainnya dari bank-bank di AS. Program ini dilakukan untuk menyuntik uang ke bank-bank di AS demi pemulihan diri pasca-krisis finansial 2008.

Rencana pengurangan QE memberikan pesan bahwa ekonomi AS menyehat. Karenanya, nilai tukar obligasi dan aset-aset finansial lain di AS akan naik. Inilah ekspektasi para investor portofolio yang mengeluarkan modalnya dari negara-negara emerging markets. Mereka melihat bahwa di depan, investasi portofolio di AS akan lebih menguntungkan daripada di negara-negara emerging markets. Dalam tiga bulan terakhir, yield obligasi jangka panjang pemerintah AS sendiri telah naik. Sebagai contoh, yield obligasi 10-tahun pemerintah AS yang menjadi benchmark, naik sekitar 125 bps dalam tiga bulan terakhir.[2]

Faktor kedua yang menyebabkan penawaran tinggi dan permintaan rendah atas Rupiah adalah neraca nilai perdagangan Indonesia yang defisit. Artinya, ekspor lebih kecil daripada impor. Dalam Tabel 1 di bawah, kita bisa lihat, defisit neraca nilai perdagangan Indonesia selama Januari-Juli 2013 adalah -5,65 miliar Dollar AS. Sektor nonmigas sebenarnya mengalami surplus 1,99 miliar Dollar AS. Namun, surplus di sektor nonmigas tidak bisa mengimbangi defisit yang sangat besar di sektor migas, yakni sebesar -7,64 miliar Dollar AS.

Tabel 1
Neraca Nilai Perdagangan Indonesia, Januari-Juli 2013
(Miliar US$)

Sumber: Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik, No. 58/09/Th. XVI, 2 September 2013, hlm. 14, http://www.bps.go.id/brs_file/eksim_02sep13.pdf.

Dinamika ekspor-impor memang bisa berdampak pada nilai tukar mata uang. Ekspor meningkatkan permintaan atas mata uang negara eksportir, karena dalam ekspor, biasanya terjadi pertukaran mata uang negara tujuan dengan mata uang negara eksportir. Pertukaran ini terjadi karena si eksportir membutuhkan hasil akhir ekspor dalam bentuk mata uang negerinya agar bisa ia pakai dalam usahanya. Sebaliknya, impor meningkatkan penawaran atas mata uang negara importir, karena dalam impor, biasanya terjadi pertukaran mata uang negara importir dengan mata uang negara asal. Karena selama Januari-Juli 2013, impor Indonesia lebih besar daripada ekspornya, maka situasi ini telah melemahkan nilai tukar Rupiah.

Apa Dampak Melemahnya Rupiah?

Apa dampak pelemahan Rupiah? Ketika nilai tukar sebuah mata uang melemah, maka yang biasanya mencolok terkena dampaknya adalah harga komoditi impor, baik yang menjadi obyek konsumsi maupun alat produksi (bahan baku dan barang modal). Karena harga komoditi impor dipatok dengan mata uang negara asal, maka jika nilai mata uang negara tujuan jatuh, harga komoditi impor akan naik. Misalnya, jika di Indonesia, nilai tukar Rupiah jatuh sebesar 10% dari 1 Dollar AS = 9.000 Rupiah menjadi 1 Dollar AS = 9.900 Rupiah, maka harga komoditi impor pun akan naik sebesar 10%. Komoditi yang harganya Rp1,5 juta akan naik Rp150 ribu menjadi Rp1,65 juta.

Dari data BPS, kita bisa lihat inflasi di bulan Juni adalah 1,03 persen, lalu meningkat menjadi 3,29 persen pada Juli. Sementara, pada bulan Agustus, inflasi turun menjadi 1,12 persen. Inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2013 adalah 7,94 persen dan ini merupakan inflasi tahunan tertinggi sejak 2009.[3] Untuk barang konsumsi, yang harganya akan naik bukan hanya barang-barang konsumsi impor, namun juga barang-barang konsumsi yang diproduksi di dalam negeri, tetapi (sebagian besar) alat-alat produksinya, terutama bahan bakunya, impor. Harga tahu tempe, misalnya, naik 20-25 persen, karena bahan bakunya berupa kedelai diimpor.[4]

Saya belum mendapat data tentang proporsi alat-alat produksi impor dari total alat produksi di Indonesia. Namun, kita bisa mendapat gambaran kasar tentang hal ini dari perbandingan antara impor barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal di Indonesia. Kalau kita lihat Tabel 2, proporsi impor terbesar pada Januari-Juli 2013 adalah impor bahan baku/penolong, yakni 76,16% dari total impor. Kemudian urutan kedua ditempati oleh impor barang modal (mesin-mesin, dan sebagainya), sebesar 16,87% dari total impor. Di urutan terakhir baru kita dapati impor barang konsumsi dengan besaran 6,97% dari total impor. Dari data ini, kita bisa menduga bahwa penggunaan alat-alat produksi impor dalam industri Indonesia cukup tinggi.

Tabel 2
Impor Indonesia Menurut Golongan Penggunaan Barang Januari-Juli 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik, op. cit., hlm. 12.

Siapa saja yang akan terpukul oleh kenaikan harga komoditi impor ini? Pertama, konsumen, terutama konsumen kelas bawah, sejauh pendapatan mereka tidak bisa mengimbangi kenaikan harga barang. Kedua, pihak-pihak dalam rantai distribusi komoditi impor mulai dari importir sampai pengecer, karena mereka menghadapi pasar dalam negeri yang menyusut. Misalnya, belakangan ini, para importir bahan kebutuhan pokok di Batam sudah menghentikan aktivitas usahanya.[5] Ketiga, para usahawan yang berorientasi pasar dalam negeri, namun alat-alat produksinya, terutama bahan bakunya, impor, seperti pengusaha tekstil, alas kaki, kemasan, dan sebagainya.[6] Keempat, rakyat pekerja yang sudah terpukul dari sisi konsumsi akibat kenaikan harga barang, juga akan dijepit dari sisi upah oleh pengusaha yang terjepit oleh kenaikan harga alat-alat produksi impor, kenaikan nilai utang luar negeri (dibahas di bawah), dan penyusutan pasar dalam negeri.

Namun, anjloknya Rupiah bukan hanya berdampak pada kenaikan harga komoditi impor saja. Dampak lainnya yang juga penting adalah kenaikan nominal Rupiah dari utang luar negeri, karena utang luar negeri dipatok dengan mata uang asing.[7] Logikanya sama dengan dampak pelemahan Rupiah pada komoditi impor. Jika di Indonesia, nilai tukar Rupiah berbanding Dollar AS jatuh sebesar 30%, maka nominal Rupiah dari utang yang dipatok dalam Dollar AS akan naik sebesar 30%. Sampai dengan Maret 2013, total utang luar negeri Indonesia adalah 254,295 miliar Dollar AS, dengan utang pemerintah dan bank sentral sebesar 124,151 miliar Dollar AS serta utang swasta sebesar 130,144 miliar Dollar AS.[8]

Apa dan siapa saja yang akan terpukul oleh kenaikan nominal Rupiah dari utang luar negeri Indonesia ini? Pertama, untuk utang swasta jelas (1) pengusaha yang berutang, dan (2) para pekerjanya yang akan ditekan oleh pengusaha yang berutang tersebut. Kedua, untuk utang pemerintah, yang akan terpukul adalah (1) anggaran negara atau APBN, dimana ketika anggaran terjepit, rezim neoliberal biasanya akan mengurangi atau mencabut subsidi untuk rakyat, sehingga (2) rakyat secara umum juga akan terkena dampaknya. Ketiga, pembayaran utang luar negeri cenderung akan meningkatkan penawaran atas Rupiah, karena uang Rupiah yang dimiliki pengutang harus ditukar dengan mata uang pembayaran utang. Akibatnya, nilai tukar Rupiah bisa semakin lemah.

Lalu, siapa yang diuntungkan oleh krisis Rupiah? Jika mata uang suatu negara melemah, maka yang diuntungkan adalah sektor ekspor yang bahan bakunya (sebagian besar) berasal dari dalam negeri. Misalnya, PT Energizer Indonesia yang memproduksi baterai Eveready yang sebagian besarnya diekspor,[9] eksportir udang,[10] dan eksportir kakao di Sulawesi Selatan.[11] Namun, ini tidak berarti seluruh sektor ekspor Indonesia untung, karena banyak komoditi ekspor kita yang ditopang oleh bahan baku impor, sehingga keuntungan yang didapat dari kenaikan harga barang ekspor itu “dibatalkan” oleh harga bahan baku impornya yang mahal.[12]

Catatan Penutup

Berdasarkan paparan di atas, kita dapati bahwa jatuhnya nilai tukar Rupiah disebabkan oleh setidaknya dua faktor, yakni (1) keluarnya sejumlah besar investasi portofolio asing dari Indonesia akibat rencana pengurangan QE oleh the Fed; (2) neraca nilai perdagangan Indonesia yang defisit. Adapun dampaknya adalah (1) kenaikan harga komoditi impor, baik yang menjadi obyek konsumsi maupun alat produksi. Adapun kenaikan harga alat-alat produksi impor bisa berdampak pada kenaikan harga komoditi yang diproduksi di dalam negeri, tetapi (sebagian besar) alat-alat produksinya impor; (2) kenaikan nominal Rupiah dari utang luar negeri. Kedua dampak ini, pada gilirannya, akan memukul berbagai lapisan masyarakat.

Namun, perlu disebutkan di sini bahwa “penyebab” yang dipaparkan di atas barulah "penyebab langsungnya" (immediate causes), bukan “akar masalahnya.” Pembahasan tentang akar masalah berada di luar lingkup tulisan ini. Tetapi, kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan sebagai titik berangkat untuk menelusuri akar masalahnya. Pertama, terkait dengan keluarnya investasi portofolio asing dari Indonesia, ini sebenarnya merupakan masalah klasik mengenai mobilitas kapital antar-negara. Tingkat mobilitas kapital yang tinggi menyebabkan volatilitas mata uang. Pertanyaannya, apa yang memungkinkan adanya tingkat mobilitas kapital seperti itu? Dan mengingat efek destruktifnya, bagaimana cara melawan mobilitas kapital yang seperti itu? Kedua, terkait dengan tingginya impor Indonesia, pertanyaannya adalah kenapa impor kita bisa seperti itu? Dan bagaimana cara melepaskan ketergantungan ekonomi kita terhadap impor?

Catatan:

[1] Wells Fargo Securities Economics Group, LLC, Weekly Economic & Financial Commentary, 30 Agustus 2013, hlm. 4, https://www.wellsfargo.com/downloads/pdf/com/insights/economics/weekly-commentary/WeeklyEconomicFinancialCommentary_08302013.pdf.

[2] Ibid., hlm. 4.

[3] Badan Pusat Statistik, "Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Bulanan Indonesia," http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=03¬ab=7.

[4] Ananda Teresia, "Dolar Naik, Harga Tempe Tahu Naik 20-25 Persen," Tempo.co, 1 September 2013, http://www.tempo.co/read/news/2013/09/01/090509138/Dolar-Naik-Harga-Tempe-Tahu-Naik-20-25-Persen.

[5] Suyono Saputra, "Rupiah Anjlok, Importir Bahan Pokok di Batam Setop Pemasukan Barang," Bisnis.com, 28 Agustus 2013, http://www.bisnis.com/rupiah-anjlok-importir-bahan-pokok-di-batam-setop-pemasukan-barang.

[6] Herlina KD, Merlinda Riska dan Tendi Mahadi, "Rupiah Melorot Pukul Industri Manufaktur," Kontan.co.id, 23 Agustus 2013, http://industri.kontan.co.id/news/rupiah-melorot-pukul-industri-manufaktur.

[7] Martha Thertina, "Rupiah Melemah, Utang Luar Negeri Naik 30 Persen," Tempo.co, 27 Agustus 2013, http://www.tempo.co/read/news/2013/08/27/092507710/Rupiah-Melemah-Utang-Luar-Negeri-Naik-30-Persen.

[8] Republik Indonesia dan Bank Indonesia, Statistik Utang Luar Negeri Indonesia, Vol: IV, Agustus 2013, hlm. 14, http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/A0877A2B-7A36-4119-947A-8449A51A58AF/29883/EDSAugust2014.pdf.

[9] "Energizer Indonesia Meraup Untung dari Melemahnya Rupiah," Swa, 25 Agustus 2013, http://swa.co.id/headline/energizer-indonesia-meraup-untung-dari-melemahnya-rupiah.

[10] Adhitya Himawan, "Eksportir udang diuntungkan pelemahan rupiah," Kontan.co.id, 16 September 2013, http://industri.kontan.co.id/news/eksportir-udang-diuntungkan-pelemahan-rupiah.

[11] M. Taufikul Basari, "Rupiah Terpuruk, Eksportir Kakao Sulsel Tangguk Untung," Bisnis.com, 16 September 2013, http://www.bisnis.com/rupiah-terpuruk-eksportir-kakao-sulsel-tangguk-untung.

[12] Sri Mas Sari, "Pelemahan Rupiah: Tidak Hanya Impor, Ekspor Pun Bisa Terganggu," Bisnis.com, 11 Juni 2013, http://www.bisnis.com/pelemahan-rupiah-tidak-hanya-impor-ekspor-pun-bisa-terganggu.

5 comments:

  1. bagus sekali artikel nya, terima kasih

    ReplyDelete
  2. Sama-sama, terima kasih juga atas komentarnya...

    ReplyDelete
  3. artikel yg sangat bermanfaat, terima kasih

    ReplyDelete
  4. ane baca ulang ulang terus dulu bro biar mudeng hehe...

    ReplyDelete